Di Balik Resensi Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Pelajaran Pentingnya Mental Health

Saat ini sangat banyak berita yang beredar terkait dengan mental health. Ketika suatu pagi membaca berita tentang bunuh diri yang dilakukan oleh remaja, membuat hati merasa tersayat tipis, sungguh miris. Kita perlu menyadari bahwa masalah mental health ini sangat perlu diperhatikan. Dukungan dari orang terdekat dan masyarakat justru sangat diperlukan. Pernahkah temanmu atau orang bercerita padamu tentang rencana bunuh diri meskipun itu terlihat hanya bergurau? Sadarilah sesungguhnya teman tersebut meminta bantuan pada kita. Jangan sampai terlambat, setidaknya kita bisa memberikan peluang harapan hidup untuknya.

Ketika kita merasa sedih carilah hiburan, luapkan emosi, jangan ditahan luapkan selama itu tidak merugikan orang lain. Kita masih punya keluarga, teman yang baik dan orang-orang baik yang mungkin tidak kita kenal sebelumnya. Seperti kisah Ale yang begitu banyak menciptakan moral value dalam kehidupan, dan buku ini juga mau difilmkan lho. Sebelum filmnya tayang yuk baca dulu bukunya dan., simak resensinya!

IDENTITAS BUKU

INTISARI/ SINOPSIS BUKU

Tokoh utama dari novel ini bernama Ale, seorang pria pekerja kantoran yang hidupnya tak tentu arah. Mulai dari suka overthinking dan suka membandingkan hidupnya dengan orang lain, hopeless, kesepian, kegelisahan, gaya hidup yang berantakan (tidak sehat), keluarga yang kurang support. Permasalahan dalam dirinya yang begitu kompleks sehingga membuatnya merasa menyerah dalam kehidupan ini, hampa yang dia rasakan setiap hari sampai akan mengakhiri hidupnya.
Berikut beberapa sub judul dari novel ini:
  • SCBD Parking Lot 17. Ale merasa sepi dan hampa dalam hidupnya. Dia merasakan cemburu terhadap hidup orang lain, berpasang-pasangan, sukses, dan sebagainya. Tapi tak berdaya untuk ikut mengejar mereka. Padahal dia memiliki pekerjaan yang cukup baik.
  • Am I Living or Just Passing Time?. Ale merasa insecure pada dirinya sendiri, dia merasa kalau tidak memiliki hal yang diunggulkan. Hidupnya hanya menjadi pemeran pembantu, karakter people pleaser sangat melekat pada rutinitasnya. Bibit depresi yang ia alami ternyata muncul sejak kecil, hal tersebut terjadi karena Ia tidak diberi kepercayaan orang tuanya. Merasa hidupnya selama ini tidak berguna. Apalagi dengan tampilan fisiknya yang menurutnya membuat orang enggan untuk melihatnya.
  • 24 Jam Sebelum Mati. Ale memutuskan untuk membersihkan diri dan merapikan apartemennya sebelum bunuh diri. Dia merasa bahwa dia berhak bahagia sebelum mati. Maka dari itu sesuai rencana, dia pun ingin makan mie ayam langganannya (yang enak) sejam sebelum melakukan bunuh diri. Namun ketika menuju penjual mie ayam itu ternyata mie ayam nya tutup. Sehingga rencananya untuk bunuh diri pun tertunda.
  • Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Rencananya gagal untuk bunuh diri sebelum makan mie ayam (dia merasa frustasi karena ingin memenuhi keinginan terakhir sebelum mati saja susah = “mau mati aja sulit”). Namun ternyata dia kekeh, rencananya untuk makan mie ayam langganan sebelum mati harus terlaksana. Kemudian untuk memenuhi hal tersebut, ia pergi ke rumah tukang mie ayam tersebut yang bernama Pak Jo. Tak disangka sesampaikanya rumah Pak Jo, ternyata si bapak penjual mie ayam tersebut meninggal dunia. Dia merasa kesal, namun dia disambut hangat oleh anak Pak Jo yang bernama Pram. Hal ini mengantarkannya pada cerita-cerita kehidupan yang dia lalui dengan penuh warna dan bermakna. Mulai dari polisi yang salah tangkap dikira dia pengedar narkoba, dan mempertemukan dia dengan orang-orang yang buruk menurut pandangan orang umumnya (napi). Namun hal ini justru membuat Ale merasa dimanusiakan setelah bertemu dengan orang-orang tersbut. Ale mulai merasa hidupnya bermanfaat untuk orang lain (seperti mulai sadar bahwa hidup yang dijalani kali ini, lebih beruntung daripada napi lainnya).
  • Sekolah Parcok. Ale terjebak, dia ditangkap polisi namun disitulah awal cerita perjalanan hidup Ale selama di penjara bersama dengan beberapa napi lainnya. Dia bertemu dengan napi narkoba bernama Murad (yang saat itu disebut bos penuh kuasa, karena ia mendapatkan perlakuan yang istimewa "dilansir ada oknum polisi yang bekerja sama dengannya" demi kelancaran bisnisnya, membayar upeti yang besar setiap bulan). Murad memiliki love language - physical attack karena setiap Ale cerita selalu ditanggapi dengan layangan tangan untuk menghajar meskipun itu hanya pelan. Di dalam penjara Ale banyak mendengarkan cerita dari Murad. Murad bercerita bahwa ketika kita hidup dan besar di jalan, jadi orang jahat dirasa akan lebih aman daripada menjadi orang baik. Di sinilah awal hidup Ale berubah, ia menjadi anak buah Murad.
  • Ale, Sang Sarung Beceng. Ale yang menjadi anak buah Murad yang ditakuti oleh semua orang, dia diminta untuk menagih hutang pada orang yang belum membayar ke Murad. Badannya yang besar dan berkulit hitam membuat semua orang ketakutan padanya, meskipun Ale belum melakukan perlawanan apapun terhadap orang-orang tersebut. Namun dibalik Murad yang notabene penjahat kelas kakap, tersimpan hati yang tulus untuk menjaga adiknya, supaya bisa tetap bercita-cita ke arah jalan yang baik yang tidak seperti dirinya.
  • Gurita Mami Louisse. Di tempat mami Louisse ini, Ale banyak mendengar cerita yang bahkan dia sendiri pun merasa terheran-heran. Bahwa ternyata hidupnya masih beruntung daripada beberapa cerita orang yang bekerja di club mami Louisse ini. Ada orang bekerja di club malam sebagai kupu-kupu malam karena sebuah tuntutan hidup yang keras. Supaya bisa tetap bertahan hidup, mereka harus terus berjuang meskipun tahu jalan yang mereka tempuh salah. Tapi mereka tidak memiliki pilihan lain, demi anak, keluarga di tengah-tengah peliknya takdir kehidupan yang mereka jalani. Ale pun menyadari bahwa ternyata ada yang hidupnya lebih buruk daripada Ale.
Terkadang kita justru mendapatkan hal-hal yang indah di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
  • Seloyang Kue Pandan Hijau. Atas kebaikan Ale yang pernah memberi Ipul (OB di kantor nya yang merupakan satu-satunya orang yang baik padanya) seloyang kue pandan hijau, yang membuat Ipul mengenang kebaikan dari Ale. Kala itu Ale teringat bahwa kesedihan tak sepenuhnya hilang, bekasnya akan selalu ada karena kue yang diberikan pada Ipul tersebut adalah kue yang akan dia berikan ke rekan-rekan kantornya di saat dia ulang tahun. Namun tidak ada yang melirik atau menyentuhnya sama sekali. Bertemu Ipul membuat Ale banyak mengambil pelajaran dari hidup dan hal-hal yang dialami oleh Ipul. Disitulah Ipul menyadarkan Ale bahwa hidup akan jauh lebih mudah kalau kita bisa menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. 
  • 500 Perak Bolu Kukus. Ipul mengajak Ale ke rumah seseorang perempuan paruh baya (yang dianggap sebagai ibunya, bernama Bu Murni). di sana Ipul biasa menyetorkan bolu kukus ke toko-toko dengan harapan keuntungan yang tidak seberapa dapat diberikan pada perempuan yang dianggapnya ibu tersebut. Perempuan tersebut merupakan ibu dari teman sekolah Ipul, temannya yang tidak pernah pulang ke rumah untuk menengok ibunya. Pola asuh yang keras membuat anaknya kecewa sampai pergi dari rumah dan tidak mau sekali pun memaafkan dan menjenguk orang tuanya. Orang tua tidak selalu benar, namun terlalu angkuh pula untuk mengakui bahwa anaknya sedang terluka. Kebahagiaan membuat merana karena ada rasa berharap, sehingga suatu ketika akan dibuat patah oleh harapan itu sendiri. Karena ternyata:
Tidak ada kebahagiaan yang benar-benar bertahan lama. Semua pasti berlalu, sedih dan senang secukupnya – Farrifuddin Attar. Hidup bukan sebuah perlombaan, mana yang cepat dan lambat, semua akan berada pada proses masing-masing dan semua akan membaik.
  • Bandring. Sebuah permainan dalam layang-layang (menarik lebih rendah dan memainkan). Secara tidak sengaja dia dipertemukan dengan Pak Uju (seorang penjualan layang-layang di pinggiran rel kereta, yang dulu anaknya pernah ia selamatkan dari jahatnya Murad). Bertemu Pak Uju membuat dia memahami bahwa ada matematika Tuhan yang tidak bisa dipetakan oleh umat manusia di Dunia ini = rezeki sudah ada yang mengatur. 
Kuncinya bukan selalu berpikir positif, namun kemampuan untuk menerima keadaan.
  • Kerupuk Bangka Orang Buta. Bertemu dengan seorang penjual kerupuk bangka yang buta (Pak Jipren) membuat Ale mempelajari kehidupan lagi bahwa ternyata dalam hidup, kita harus berusaha dengan sesuatu yang kita miliki. Kita juga perlu meluapkan emosi supaya tidak terpendam berlarut-larut, harus selalu "self love" mengapresiasi diri bahwa sejauh ini diri sudah berjuang.
  • Seporsi Mie Ayam yang Terakhir. Ale pun memahami bahwa dia mulai menerima kehidupannya dan menyadari bahwa semua orang yang kita perlakukan dengan baik tidak semuanya membalas dengan kebaikan pula. Dia tidak akan makan mie ayam yang dibuatkan oleh Pram (anak penjual mie ayam alm Pak Jo, yang dulunya dia impikan makan mie ayam Pak Jo sebelum mengakhiri hidupnya). Dia berpikir, dia akan makan lain waktu saja, karena dia memutuskan untuk tidak membiarkan kematian menghampirinya lebih dulu. Harapan unutk hidup akhirnya bersemi di sanubari Ale.

KEPENGARANGAN/ BIOGRAFI PENGARANG

  • Latar Belakang Penulis. Brian Khrisna, penulis asal Bandung yang lahir tanggal 17 Januari. Brian aktif menerbitkan buku beberapa judul novel selama karir perjalanannya. Dia bermula menulis melalui tumblr hingga sekarang menulis di berbagai platform. Karyanya bervariasi, mulai dari prosa, puisi, cerpen, cembung, senandika, dan sebagainya.
  • Keahlian. Penulis novel best seller.
  • Prestasi. Brian Khrisna telah menerbitkan 11 karya yang cukup legendaris dan menjadi salah satu penulis favorit di kalangan pembaca. Penulis best seller termasuk novel seporsi mie ayam sebelum mati.

KELEBIHAN DAN KEKURANGN BUKU

Kelebihan. Bahasa yang digunakan penulis sangat ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Alurnya mengalir dan membuat pembaca penasaran untuk segera menyelesaikan cerita. Gaya bahasa yang digunakan juga dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buku ini tidak hanya sekedar membahas makanan yang ingin dinikmati tapi juga mengulas pergolakan batin seseorang yang merasa putus harapan untuk melanjutkan hidupnya. Konflik yang disajikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, banyak orang yang mengalami masalah mental health. Ternyata kesehatan mental tidak boleh disepelekan, karena dampaknya sangat besar. Pada buku ini diceritakan bahwa Ale sampai kita tidak bisa berpikir jernih terkaiti hal-hal yang pantas untuk disyukuri. Seperti pekerjaan yang bagus, tinggal di apartemen di tengah kota, dan sebagainya. Ada beberapa visual menarik di setiap bab nya, sehingga menyegarkan mata pembaca. Ada kata-kata/quotes puitis yang relate dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca menjadi terinspirasi terhadap moral value yang terdapat pada setiap cerita yang disajikan. Pembaca menjadi tahu ternyata begitu kerasnya kehidupan diluar sana, bersyukur bahwa kita masih beruntung bahwa  Tuhan memberikan kita hidup yang layak di dunia ini.
Kekurangan. Alur yang terkesan lambat seperti ditunda-tunda membuat pembaca kadang merasa jenuh. Terlalu banyak tokoh yang mungkin tidak dijelaskan secara lengkap sehingga pembaca mencoba menebak dari bahasa yang digunakan dalam percakapan. Bahasa yang digunakan begitu lugas, terdapat beberpa kata kotor yang mungkin memang sedikit terasa kurang nyaman, namun sekali lagi itu penggambaran yang relate dengan kehidupan yang diceritakan. 

KESIMPULAN

Kritik dan Saran. Cerita yang disajikan setiap babnya mungkin bisa diteruskan untuk penokohannya, supaya tidak terkesan ada cerita yang tidak selesai.
Rekomendasi. Novel yang direkomendasikan untuk segala umur. Usia remaja yang mungkin banyak merasa tertekan sampai merasa tidak ada harapan. Kita bisa mengingat hal-hal yang perlu disyukuri setiap harinya.

MORAL VALUE

Kadang sesuatu yang dekat dengan kita, kondisi situasi di sekitar kita, malah luput dari perhatian. Kita justru sibuk dengan sesuatu hal yang rumit padahal hal tersebut ada yang pantas untuk disyukuri. Hal yang sederhana seperti masih bisa makan semangkuk mie ayam adalah salah satu hal yang patut untuk disyukuri. Karena ternyata mie ayam yang harganya ga seberapa itu masih tertelan enak di mulut kita. 
Ada beberapa poin yang bisa petik dari buku dan kisah Ale ini:
  1. Kesehatan mental itu sangat penting, cintai diri kita banyak-banyak.
  2. Lepaskan sesuatu hal yang tidak bisa kita kontrol, fokus pada sesuatu yang bisa kita kontrol. Karena kita tidak bisa mengharapkan orang untuk baik pada kita sesuai dengan keinginan kita.
  3. Kita tidak sendirian, kita punya teman dan keluarga yang akan membantu kita dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. 
  4. Seberapa besarnya rasa putus ada, pasti disitu masih ada peluang harapan, maka carilah harapan itu, supaya kita bisa tetap hidup.
  5. Untuk bersimpati dan berempati, kita tidak harus mengalami sendiri dalam mendapatkan pelajaran kehidupan, namun kita bisa belajar dari pengalaman hidup orang lain.
  6. Banyak bersyukur, meskipun kita merasa hidup kita biasa atau bahkan menyesakkan, coba renungkan masih banyak yang lebih kurang beruntung daripada kehidupan yang kita jalani saat ini.
Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang beruntung dengan rasa syukur yang kita ucapkan setiap harinya. Aamiin…




Dewi Tinjung Sari
• Education • Authorship • Lifestyle • Seorang pebelajar yang memiliki hobi menulis. Penawaran kerjasama dan sejenisnya bisa menghubungi saya pada halaman contact. Terima Kasih.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar